• Geosinindo Team

Tipe Non-woven Geotextile, Fungsi, dan Aplikasinya

Diperbarui: 14 Jun


tipe non woven geotextile

Non-woven geotextile merupakan salah satu jenis material geotextile. Disebut dengan istilah “non-woven” karena material yang satu ini diproduksi tidak melalui metode tenun (woven). Jika bukan tenun, lantas apa metode yang digunakan?


Pada jenis woven geotextile, benang atau serat filamen yang merupakan bahan baku, disatukan dengan cara ditenun atau dianyam. Itu berarti, tiap benang penyusunnya saling terkait. Sementara pada jenis non-woven, bahan baku disatukan dengan metode bonding atau interlocking. Terkadang juga ditemukan non-woven geotextile yang diproduksi dengan metode kombinasi.


Metode bonding menggunakan dukungan mesin (mekanik), zat kimia, pelarut, suhu panas (termal), maupun gabungan dari beberapa cara tersebut. Sementara itu, metode interlocking umumnya dilakukan dengan menerapkan teknik needle punch atau penyulaman. Secara umum, bahan baku yang digunakan untuk membuat material geotextile adalah benang dari bahan polypropylene (PP), polyester (PET) atau kombinasi keduanya.


Artikel kali ini akan membahas mengenai tipe non-woven geotextile, termasuk penjelasan mengenai fungsi dan aplikasinya. Mari simak detail selengkapnya berikut ini!


Fungsi Non-woven Geotextile

Secara garis besar, material non-woven geotextile memiliki tiga fungsi utama, yaitu drainase, filtrasi, dan juga separasi. Ketiga fungsi tersebut menjadi mungkin karena sifat dari material non-woven geotextile itu sendiri.


Non-woven geotextile memiliki sifat permeabel dengan permukaan yang rapat berpori-pori kecil. Hal ini memungkinkan likuida (cairan) menembus material sekaligus menahan padatan agar tidak lewat.


Itu artinya, material non-woven geotextile ideal untuk proyek dengan zat-zat yang dapat menembus pori-pori berdiameter mikro, seperti likuida dan gas. Untuk lebih memahami tentang fungsi non-woven geotextile, Anda dapat menyimak penjelasan pada poin-poin di bawah ini:


1. Drainase

Bahan non-woven geotextile dijadikan elemen pasif untuk mengangkut likuida atau gas. Fungsi drainase ini dapat dijalankan secara mandiri oleh material non-woven geotextile tanpa harus dicampur dengan zat tambahan. Walau begitu, untuk mendapatkan hasil yang optimal, terkadang bahan tanpa tenun ini juga dikombinasikan dengan elemen lain seperti inti drainase.


Kombinasi antara non-woven berlubang dengan inti drainase akan meningkatkan kapasitas drainase atau saluran pembuangan. Kombinasi ini sering disebut dengan istilah “drainase geo-komposit”.


2. Filtrasi

Fungsi lain dari non-woven geotextile adalah filtrasi atau penyaringan. Saat menjalankan fungsi ini, bahan non-woven digunakan untuk menahan partikel agregat yang halus. Filtrasi akan mencegah partikel halus dari pencucian maupun gerusan. Kedua elemen (cairan dan agregat) pun akan terpisah tanpa harus merusak struktur asli.


Sebenarnya, fungsi filtrasi ini adalah fungsi geotextile yang utama pada pertengahan 1960-an. Kala itu, penggunaan geotextile benar-benar masif, terutama di wilayah Eropa.


Salah satu negara yang paling banyak menggunakan material non-woven geotextile adalah Belanda. Sekitar 50% wilayah Belanda berada di bawah permukaan laut. Hal ini membuat negara asal bunga tulip tersebut rentan mengalami banjir rob (masuknya air laut ke daratan). Material geotextile ditambahkan pada struktur bendungan yang dibangun di sepanjang pantai untuk mendapatkan perlindungan terbaik. Jadi, daratan Belanda pun tidak akan tenggelam.


3. Separasi

Fungsi yang terakhir yaitu fungsi separasi. Pada penerapan fungsi separasi, material non-woven geotextile digunakan untuk memisahkan dua lapisan tanah yang berbeda karakteristiknya.


Dengan menambahkan non-woven geotextile sebagai pemisah, lapisan tanah yang halus (subgrade) tidak akan masuk ke lapisan granular yang permeabel. Sederhananya, lapisan halus ini tidak akan hanyut terbawa air. Jika lapisan halus tidak hanyut, otomatis kedudukannya pun akan tetap dan tidak bercampur dengan lapisan lain yang ukuran partikelnya berbeda (base course). Pencampuran material pun dapat dihindari.


Pemisahan dari bahan non-woven geotextile diperlukan untuk memastikan kinerja jangka panjang dari struktur konstruksi. Contoh penerapan yang paling umum adalah pondasi jalan raya, dasar lintasan kereta api, dinding bendungan, hingga tanggul laut.


Perbedaan Utama Woven dan Non-Woven Geotextile

Jika dilihat dari metode pembuatan, sebenarnya geotextile memiliki jenis yang sangat variatif. Namun, untuk jenis yang paling banyak digunakan, ada dua macam, yaitu woven dan non-woven geotextile. Penggunaan kedua jenis material geotextile ini sudah begitu luas di berbagai proyek konstruksi maupun teknik sipil. Namun, sebenarnya, di mana letak perbedaan utama material woven dan non-woven geotextile?


  • Woven geo-textile

Letak perbedaan utama material woven geotextile dengan non-woven geotextile terletak pada metode pembuatannya. Material woven diproduksi dengan metode penenunan. Benang atau potongan tipis film dijalin hingga menjadi lembaran besar. Penenunan yang berulang menghasilkan tampilan permukaan seragam.


Selain itu, dari segi fungsi pun cukup berbeda. Material woven geotextile memiliki kekuatan tarik yang tinggi dan mampu menahan beban berat sehingga lebih cocok untuk fungsi perkuatan (reinforcement) dan penahan (containment).


Meski disebut barang tenun, sebenarnya dari segi tekstur dan tampilan, woven geotextile lebih menyerupai plastik daripada kain. Terlebih, bahan ini juga memiliki kecenderungan kedap air dan tidak menawarkan drainase. Dengan kapasitas beban yang sangat tinggi, material woven geotextile ini biasanya digunakan dalam proyek timbunan tinggi dan pengamanan lereng.


  • Non-woven geotextile

Jika woven geotextile dibuat dengan metode tenun, maka non-woven geotextile sebaliknya. Material ini diproduksi dengan metode di luar tenun. Untuk membuat bahan non-woven bisa menggunakan metode bonding atau interlocking. Pada metode bonding, penyatuan benang atau lapisan film memanfaatkan bantuan mesin, zat kimia, maupun suhu panas. Sementara itu, metode interlocking dilakukan dengan teknik needle punch atau sulam.


Fungsi utama non-woven geotextile lebih kepada fungsi filtrasi, separasi, dan drainase. Ini karena permukaannya yang cenderung rapat dengan pori-pori kecil. Meski rapat, non-woven bisa ditembus air maupun gas, tapi mampu menyaring partikel agregat halus.


Tampilan non-woven geotextile mirip dengan kain, baik dari segi tekstur maupun tampilan. Biasanya, material ini dikelompokkan berdasarkan beratnya.


Material ini menawarkan permeabilitas tinggi dan biasanya digunakan dalam proyek yang melibatkan likuida, misalnya proyek pembuatan saluran drainase. Bisa juga diterapkan pada proyek yang fokus pada fungsi filtrasi, seperti pengamanan pantai dan bantaran sungai.


Bahan Pembuatan Geotextile

Sekarang kembali lagi pada geotextile. Sebenarnya, material ini bisa diproduksi dengan dua jenis bahan: alami maupun sintetis (buatan manusia). Berikut penjelasan untuk masing-masing bahan.

  • Bahan alami

Bahan alami diketahui sudah digunakan sejak zaman Mesir Kuno. Kala itu, serat tumbuhan digunakan sebagai bahan tambahan untuk pembuatan konstruksi bendungan Sungai Nil. Serat alami dikumpulkan dari sumber alami seperti tumbuhan (berupa daun, biji, dan kulit kayu), hewan, maupun mineral.


Karakteristik geotextile dari serat alami adalah daya tahan dan kekuatan yang cukup baik. Selain itu, geotextile dari serat alami juga merupakan bahan biodegradable alias dapat terurai sendirinya. Artinya, material ini meninggalkan jejak karbon minimal, sekaligus lebih ramah lingkungan. Namun, kini penggunaannya semakin jarang karena dinilai kurang efisien. Beberapa contoh bahan alami pembuat non-woven geotextile adalah serat goni, rami, sabut, dan sisal.


  • Bahan sintetis

Selain bahan alami, non-woven geotextile juga bisa diproduksi dari bahan sintetis. Inilah jenis bahan yang paling banyak digunakan saat ini. Walau begitu, masih ada beberapa perusahaan yang mencampurkan bahan sintetis dengan bahan alami saat membuat non-woven geotextile.

Material geotextile yang terbuat dari serat sintetis disebut dengan istilah geosintetik. Sedikit informasi tambahan, material geotextile tidak selalu geosintetik, namun semua geosintetik sudah pasti merupakan geotextile. Dua bahan sintesis yang sering digunakan dalam pembuatan non-woven adalah polypropylene (PP) dan polyester (PET). Contoh lainnya adalah polyamide serta polyethylene.


Proses Pembuatan Non-Woven Geotextile

Proses pembuatan non-woven geotextile tergolong kompleks. Sebab, prosedur yang harus dilewati tergolong banyak. Elemen utama pembuatan material non-woven di antaranya:


1. Mempersiapkan bahan baku

Bahan baku yang berupa polimer dalam bentuk pelet atau serpihan diangkut ke bagian pengumpan dari ekstruder.


2. Ekstrusi

Bahan baku polimer dicampur dengan stabilisator, aditif, pewarna, pengubah resin, atau aditif lainnya. Campuran bahan baku ini dilebur di dalam ekstruder besar.


3. Pemintalan serat

Campuran polimer cair dipompa melalui saluran yang dipanaskan ke sistem filter resin dan kemudian ke bagian distributor yang mengarah ke unit pemintal. Mesin pemintal biasanya terdiri dari pelat berlubang yang disusun melintasi pelat garis. Resin akan keluar melalui banyak lubang kecil di pelat pemintal untuk membentuk filamen secara terus-menerus.


4. Zona pendinginan atau atenuasi

Setelah filamen muncul dari lubang pemintal, maka akan langsung diarahkan ke bawah menuju ruang pendinginan atau cerobong asap. Saat filamen berjalan melalui ruang tersebut, udara dingin diarahkan melintasi gulungan filamen untuk mendinginkannya. Dengan begitu, filamen cairan pun akan memadat dan menjadi benang yang dapat dipintal.


Filamen yang sudah memadat kemudian dibawa lebih jauh ke bawah hingga ke saluran meruncing oleh aliran udara. Aliran kedua udara berkecepatan tinggi diarahkan sejajar dengan arah filamen, menyebabkan percepatan dan pelemahan atau peregangan masing-masing filamen.


Peregangan mekanis ini menghasilkan peningkatan orientasi rantai polimer yang membentuk filamen secara terus-menerus. Proses inilah yang nantinya menentukan kekuatan serta sifat filamen lainnya, termasuk denier atau ketebalan filamen.


5. Pembentukan jaring filamen

Filamen diendapkan secara acak pada sabuk pembentuk yang bergerak dan berpori. Sebuah vakum di bawah sabuk bekerja membentuk jaring filamen pada sabuk pembentuk dan menghilangkan udara yang digunakan dalam proses ekstrusi.


Dalam beberapa proses, muatan elektrostatik ditempatkan pada bundel filamen untuk memastikan penyebaran dan pemisahan lapisan-lapisan filamen. Dalam proses lain, pelat deflector digunakan untuk meletakkan lembaran filamen secara acak pada sabuk pembentuk.


6. Needle punch

Jaring filamen dikirim ke bagian pelubang jarum. Pada tahapan ini, filamen akan dilubangi oleh beberapa jarum untuk mengunci serat di dalamnya.


7. Winding

Benang yang sudah direkatkan hingga membentuk lembaran kain besar bertemu dengan bagian celah. Kedua tepi lembaran kemudian dipangkas untuk menghilangkan tepi kasar yang tidak rapi dan seragam karena proses pembuatan. Setelah selesai dipotong dan dirapikan, kain dililitkan ke gulungan yang lebih besar. Setelah proses ini selesai, gulungan kain siap untuk dikemas dan dikirim.


Kelebihan Non-Woven Geotextile

Apabila dibandingkan dengan material woven geotextile, material non-woven geotextile memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan utama geotekstil non woven adalah permeabilitas yang tinggi dan daya tahan tinggi terhadap kerusakan mekanis.



Peluang Pengembangan Non-Woven Geotextile

Kelebihan lain yang tak kalah menarik adalah fakta bahwa non-woven memiliki peluang besar untuk terus berkembang. Salah satu temuan terbaru menemukan bahwa material ini nantinya dapat diproduksi dengan memanfaatkan teknologi nano.


Penerapan teknologi nano sudah mulai digunakan pada formulasi non-woven geotextile. Pada pembuatan non-woven dengan fungsi separasi dan filtrasi, digunakan bahan nano-clay dan nano-fiber. Nano-fiber sendiri merupakan bahan canggih yang diklaim lebih ramah lingkungan.


Pada Mei 2018, European Commission merilis laporan Plastics Strategy, rangkaian strategi untuk mengurangi sampah plastik dunia. Dalam laporan tersebut, yang menjadi strategi utama yaitu mengurangi penggunaan sepuluh jenis plastik yang umum digunakan dalam aktivitas sehari-hari, di antaranya sebagai berikut:

  • Korek kuping

  • Sendok garpu, piring, sedotan dan pengaduk

  • Tongkat untuk balon dan balon

  • Wadah makanan

  • Cangkir minuman

  • Wadah minuman

  • Puntung rokok

  • Kantong belanja dari plastik

  • Bungkus makanan ringan dan permen

  • Tisu basah dan produk kebersihan

Larangan penggunaan plastik sekali pakai ini telah berdampak pada industri non-woven geotextile. Sebab, jika material ini terus dikembangkan, bisa menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik, terutama apabila penerapan teknologi nano semakin digencarkan.


Kenapa Harus Menggunakan Non-woven Geotextile?

Lantas, apa sebenarnya yang membuat non-woven geotextile “spesial”, terutama saat dibandingkan dengan material woven geotextile?


Seperti yang telah disebutkan pada poin pembahasan sebelumnya, material non-woven geotextile dapat dimanfaatkan pada proyek konstruksi dan teknik sipil, utamanya yang menerapkan fungsi drainase, filtrasi, maupun separasi.


Non-woven juga memiliki tingkat fleksibilitas yang cukup tinggi, bahkan levelnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan woven. Hal ini membuat non-woven sangat ideal untuk digunakan dalam pemisahan. Ketebalan dan ketahanan tusukan geotekstil non-woven memberikan bantalan dan perlindungan pada geomembran di area kolam, drainase, bendungan, kanal sungai dan pekerjaan pesisir, tanggul, pertambangan, hingga pembuangan akhir (TPA).


Geotextile bukan tenunan juga digunakan dalam aplikasi di mana filtrasi dan drainase diperlukan. Sebab, ukuran bukaannya cenderung kecil. Bahan ini juga memiliki kemampuan untuk menyaring partikel berukuran kecil, yang memungkinkan air bisa tetap mengalir. Hal ini sangat ideal untuk pemisahan dalam aplikasi paving di jalan aspal dan beton. Dalam konsep aplikasi penghalang, bahan non-woven dapat bertindak sebagai penghalang infiltrasi air.


Menariknya lagi, bahan tanpa tenun juga memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan untuk lingkungan yang sangat menuntut, misalnya proyek pembuatan jalan di gurun pasir. Penyebabnya, non-woven geotextile sangat kuat, tahan sobekan dan tusukan, ringan, serta toleran terhadap fluktuasi suhu.


Dunia kini tengah memasuki era industri baru. Alhasil, infrastruktur pun mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dengan banyaknya infrastruktur yang dibangun, permintaan terhadap non-woven geotextile pun meningkat.


Penggunaannya pun begitu luas, mulai dari proyek drainase, pemeliharaan air, pembuatan bendungan, kanal sungai dan pesisir, tanggul, jalan raya, lintasan kereta api, jalur runway pesawat terbang, lapangan olahraga, dan berbagai proyek berkelanjutan lainnya. Fleksibilitas unik non-woven sebagai material geotextile membuatnya cocok digunakan dalam mengamankan infrastruktur seperti TPA dan saluran drainase.


Dari sini, dapat disimpulkan bahwa non-woven geotextile memiliki tiga fungsi utama, yaitu drainase, filtrasi, dan separasi. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan material ini memiliki perluasan fungsi jika dikombinasikan dengan bahan lain. Sifatnya yang begitu fleksibel membuat non-woven dapat dimanfaatkan dalam berbagai jenis proyek konstruksi maupun teknik sipil.


Apakah Anda sedang menjalankan proyek yang berfokus pada fungsi drainase, filtrasi, dan separasi? Tertarik untuk menjadikan non-woven geotextile sebagai alternatif material dalam proyek Anda? Geosinindo siap menyediakan solusi terbaik untuk Anda.


Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, Geosinindo menyediakan beragam produk geosintetik berkualitas untuk Anda. Seluruh produk menjalani pengujian di Laboratorium Terakreditasi GAI-LAP dan menerapkan prosedur produksi berstandar internasional sehingga kualitas dan keamanannya terjamin. Dapatkan bahan non-woven geotextile dan beragam material geosintetik untuk proyek Anda, hanya di Geosinindo!