• Geosinindo Team

Woven Geotextile Adalah Salah Satu Jenis Geotextile, Apa Saja Fungsi dan Contoh Aplikasinya?

Diperbarui: 2 hari yang lalu


jenis geotextile dan fungsinya

Woven geotextile adalah salah satu jenis material geotextile. Nah, geotextile sendiri merupakan barang tenun permeabel (dapat ditembus partikel) yang digunakan pada bidang tanah.


Material geotextile memiliki kemampuan untuk memperkuat, melindungi, menyaring, hingga memisahkan. Kebanyakan geotextile yang beredar di pasaran sekarang terbuat dari polypropylene atau polyester. Woven geotextile adalah salah satu jenisnya. Selain itu, ada juga material non-woven atau punch needle yang memiliki tampilan mirip flannel.


Geotextile adalah bahan yang tahan lama dan mampu mereduksi kemungkinan longsor atau rusaknya tanah. Jika diklasifikasikan, geotextile masuk dalam kelompok geosintetik yang mampu memberikan manfaat dalam struktur rekayasa geoteknik dan juga lingkungan.


Woven sendiri secara harfiah berarti tenun. Secara teknis, pembuatan woven adalah dengan menjalin dua atau lebih benang dengan sudut siku-siku yang saling berjalin satu sama lain. Jika bahan tenun pada umumnya terbuat dari serat alami atau campuran serat alami dan sintesis, woven geotextile terbuat dari serat sintetis (polypropylene atau polyester).


Ulasan kali ini akan membahas tentang geotextile, mulai dari fungsi, sejarah, karakteristik, hingga jenis-jenisnya. Pada bagian akhir juga akan membahas tentang woven geotextile serta contoh pemanfaatannya.


Mari pelajari ulasan selengkapnya berikut ini!


Apa Itu Geotextile?

Geotextile, atau geotekstil, adalah bahan geosintetik permeabel yang terbuat dari serat sintetis menggunakan metode needle punch atau penenunan. Material geotekstil sendiri merupakan produk geosintetik.


Disebut dengan istilah geotekstil karena secara garis besar, pemanfaatannya adalah pada “geo” yang secara harfiah berarti bumi atau tanah. Sedangkan. kata “textile sendiri berarti barang tenun. Jadi, dengan kata lain, geotextile adalah barang tenun yang digunakan pada tanah.


Contoh produk jadi geotextile adalah lembaran kain. Umumnya, produk geotextile memiliki lebar sekitar 4-6 meter (bisa disesuaikan dengan kebutuhan) dengan panjang kurang lebih 50-100 meter. Geotextile secara umum dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu woven dan juga non-woven geotextile.


Secara teknis, ada banyak sekali metode desain maupun kombinasi metode dalam perancangan geotextile. Namun, dalam penerapannya, keputusan akhir pembuatan geotextile sering kali didasarkan pada tiga hal: biaya dan ketersediaan bahan baku (dalam hal ini serat sintetis), spesifikasi, dan fungsi. Rancangan desain yang sudah pernah dibuat biasanya diterbitkan dalam jurnal Geotextiles and Geomembranes milik International Geosynthetics Society.


Sejarah Singkat Geotextile

Mulanya, geotextile adalah material plastik yang dikenal sebagai bahan pengisi, beberapa juga menyebutnya sebagai kain saring. Penggunaan bahan yang mirip dengan geotextile pertama kali tercatat pada tahun 1950-an oleh R.J. Barrett. Kala itu, geotextile dijadikan material untuk melapisi struktur beton pracetak pada seawall (pembatas pantai). Bahan ini ditambahkan untuk mencegah terjadinya erosi laut. Geotextile buatan Barrett terbuat dari kain tenun monofilamen.


Kain tenun monofilamen yang digunakan oleh Barrett telah mengalami modifikasi sedemikian rupa. Ciri khasnya adalah persentase area terbuka yang tergolong tinggi (6-30%). Menurut Barrett, untuk bisa mencapai fungsi dukungan yang optimal, material harus memiliki tingkat permeabilitas yang memadai dan sifat retensi tanah. Ia juga bereksperimen pada kekuatan material untuk penggunaan geotextile sebagai komponen filtrasi.


Meski begitu, sebenarnya praktik penambahan kain berserat untuk memperkuat lapisan tanah sudah ada sejak zaman Mesir Kuno. Masyarakat Mesir Kuno diketahui menggunakan serat tanaman yang ditenun untuk meningkatkan kekuatan tanah. Serat tersebut ditambahkan pada proyek bendungan yang menampung aliran air dari Sungai Nil.


Istilah geotextile sendiri pertama kali diperkenalkan pada tahun 1977, tepatnya pada saat International Conference on the use of Fabrics in Geotechnics yang digelar di Paris. Jelang akhir 1970-an, permintaan terhadap material geotextile mengalami peningkatan. Bahkan spesifikasinya ditambah sehingga pemanfaatan geotextile meluas, tak hanya digunakan pada proyek penguatan tanah saja.


Ketahanan geotextile menjadi salah satu kekuatannya. Material ini sangat kuat sehingga cocok untuk proyek stabilisasi tanah, pengendalian tanah, hingga dukungan lereng. Selain itu, geotextile adalah material yang permeabel sehingga dapat digunakan sebagai filter untuk menyaring dan memisahkan partikel sampah. Pemanfaatan geotextile adalah hal yang sangat umum dalam proyek teknik sipil.


Karakteristik Geotextile

Karakteristik utama geotextile adalah kekuatan mekanis yang tinggi. Jalinan serat plastik yang menyusun geotextile mampu mempertahankan kekuatan, baik dalam kondisi kering maupun basah. Material plastik juga memiliki properti antimikroba, membuat geotextile tidak mudah rusak karena serangan mikroorganisme dan serangga yang ada di dalam tanah.


Bukan hanya itu, material ini juga tahan terhadap korosi. Salah satu problem yang sering dijumpai pada material penguat tanah adalah korosi. Dalam jangka panjang, dikhawatirkan penguat akan mengalami korosi, terutama pada area dengan kandungan pH yang berbeda.


Geotextile adalah material yang permeabel. Artinya, air dapat menembus material melalui celah-celah yang ada di antara serat plastik. Sifat permeabel ini membuat geotextile cocok dijadikan material penyaring.


Dari segi desain, geotextile juga unggul. Material penyusunnya yang ringan dan lembut akan memudahkan proses pengangkutan, peletakan, bahkan pembangunan struktur. Geotextile juga terbilang ekonomis karena harganya yang relatif miring. Ketahanannya pun tinggi sehingga tidak memerlukan biaya perawatan. Cocok untuk proyek filtrasi, drainase, hingga isolasi jangka panjang.


Jenis-jenis Geotextile

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, geotextile dibagi menjadi dua kategori besar, yakni woven dan non-woven. Pengelompokan ini dibuat menurut metode pembuatan geotextile. Woven dibuat dengan metode tenun, sementara non-woven menggunakan metode needle-punch atau sulam. Untuk lebih memahami karakteristik masing-masing jenis, mari simak poin-poin di bawah ini:


1. Woven geotextile

Woven geotextile adalah material geotextile yang dibuat melalui metode penenunan tradisional. Tiap benang ditenun hingga menjadi lembaran besar yang seragam. Benang yang dijadikan bahan baku woven geotextile terbuat dari berbagai jenis material, mulai dari benang fibrilasi hingga monofilamen. Ada juga woven geotextile yang terbuat dari bahan slit films.

Hasil tenun yang seragam menawarkan kuat tarik yang jauh lebih tinggi. Hal ini membuat woven geotextile ideal untuk proyek dengan beban berat seperti konstruksi jalan. Hanya saja, geotextile tenunan ini menghasilkan permukaan yang kurang berpori dan cenderung kedap air, menjadikannya tidak cocok untuk proyek drainase. Pemanfaatan woven geotextile yang minim pori-pori hanya akan menyumbat saluran karena sulit ditembus air.


Meski begitu, sifat woven geotextile yang tidak berpori justru membuatnya ideal untuk proyek pengendalian erosi. Pada beberapa jenis proyek pengendalian erosi, air harus diarahkan atau dilewatkan di atas permukaan tanah untuk mencegahnya mengalir masuk ke lapisan tanah di bawahnya. Karakteristik ideal lainnya dari woven geotextile adalah ketahanan tinggi terhadap risiko korosi serta daya tahan yang tergolong panjang.


Woven geotextile adalah material yang memiliki kuat tarik tinggi. Oleh karenanya, material ini sesuai untuk proyek konstruksi jalan, tempat parkir mal, hingga landasan pacu bandara dan tempat parkir. Selain itu, material ini juga mampu menahan degradasi UV, membuatnya sesuai untuk aplikasi jangka panjang.


2. Non-woven geotextile

Di sisi lain, non-woven geotextile dihasilkan dengan proses pengikatan atau metode sulam, bukan menenun. Pengikatan benang dilakukan dengan metode punch needle. Namun, ada juga yang memanfaatkan bahan kimia dan/atau panas untuk membuat non-woven geotextile.

Kain non-woven geotextile biasanya terbuat dari bahan sintetis dan banyak digunakan dalam proyek pemisahan dan penyaringan. Tidak seperti material woven geotextile, material non-woven geotextile tidak cocok untuk proyek perkuatan dan stabilisasi meski sebenarnya geotextile jenis ini adalah pilihan yang lebih baik untuk penggunaan khusus seperti perlindungan sistem pelapis geomembran, baik terhadap penetrasi eksterior maupun interior.

Pada proyek yang melibatkan genangan air, non-woven geotextile adalah opsi yang jauh lebih baik. Alasannya tak lain adalah karena tingkat permeabilitas non-woven geotextile lebih tinggi jika dibandingkan dengan woven geotextile. Perlu diingat juga, kain non-woven geotextile tetap menawarkan daya tahan dan kekuatan yang baik, terutama untuk fungsi drainase (pembuangan), membuatnya ideal untuk berbagai aplikasi.


Fungsi Geotextile

Dengan karakteristik yang begitu tahan lama, fungsi geotextile sangatlah beragam. Berikut adalah fungsi utama dari material geotextile:


Filtrasi

Fungsi geotextile yang pertama adalah untuk kebutuhan filtrasi atau penyaringan. Apa yang dimaksud dengan filtrasi di sini adalah proses menyeimbangkan lapisan tanah sehingga aliran air yang tepat dapat melintas. Penting untuk diingat, filtrasi menitikberatkan pada jumlah partikel tanah yang terbawa oleh air. Partikel tanah yang terbawa air harus seminimal mungkin.

Jika air dapat menembus bidang penyaring tapi membawa sejumlah besar partikel, dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan lapisan tanah. Untuk itu, diperlukan penyaring yang dapat ditembus oleh air, tapi sulit dilalui partikel-partikel tanah.

Geotextile adalah jawaban terbaik untuk situasi tersebut. Sifatnya yang permeabel dapat ditembus air sekaligus mampu menahan keluarnya partikel tanah. Untuk fungsi filtrasi, bisa menggunakan woven maupun non-woven geotextile. Keduanya sama-sama bisa menahan partikel tanah.

Aplikasi warping dengan geotextile banyak digunakan untuk pembuatan drainase vertikal maupun horizontal. Di samping itu, warping juga dapat digunakan untuk penggantian agregat (bahan-bahan mineral tidak bergerak) yang bergradasi.


Drainase

Fungsi geotextile lainnya adalah sebagai drainase. Material geotextile berfungsi sebagai drainase atau saluran pembuangan ketika mengumpulkan dan mengangkut cairan (atau terkadang gas menuju) saluran keluar.

Fungsi ini menjadi mungkin karena desain dari material geotextile itu sendiri. Geotextile, terutama untuk jenis non-woven, memiliki pori-pori yang sangat kecil. Hal ini akan membuat aliran air dengan mudah melintas melalui permukaan datar tiga dimensi.

Untuk fungsi drainase, disarankan memilih jenis material non-woven geotextile. Pilihlah material dengan kategori ringan atau sedang (sekitar 8-226 gram). Hindari material yang berat karena hanya akan menyumbat saluran drainase dan membuat air sulit menemukan jalur keluar.


Separasi

Berikutnya ada fungsi separasi atau pemisahan. Untuk fungsi ini, Anda bisa menggunakan jenis woven maupun non-woven geotextile (kategori berat dengan ukuran 226-453 gram).

Sebagai pemisah, lapisan geotextile ditempatkan di antara dua bahan yang berbeda sehingga fungsi dari dua bahan tersebut dapat tetap utuh atau bahkan dapat ditingkatkan. Biasanya, fungsi separasi ini digunakan dalam proyek transportasi. Geotextile adalah material yang tepat untuk mencegah bercampurnya dua lapisan tanah yang berdekatan.

Salah satu contoh penerapan fungsi separasi geotextile adalah pada proyek pembuatan lintasan kereta. Material geotextile digunakan sebagai pemisah antara lapisan tanah dasar yang halus dari lapisan pondasi bawah (base course). Dengan begitu, kekuatan agregat bisa tetap dipertahankan sambil tetap memastikan saluran drainase lancar.

Selain itu, geotextile sebagai pemisah juga bisa digunakan pada semua jenis proyek pembuatan jalan, berbagai jenis pondasi, dan tingkat dasar struktur. Material ini juga dapat mencegah kegagalan prematur struktur, menghindari terjadinya efek pemompaan yang diciptakan oleh beban dinamis, serta menyediakan aliran air sambil menahan partikel tanah.


Perkuatan

Fungsi perkuatan atau enforcement merupakan peningkatan sinergis terhadap kekuatan tanah dengan penambahan material geotextile, baik itu woven maupun non-woven. Fungsi ini diwujudkan melalui tiga mekanisme berikut:

  1. Pengekangan lateral melalui gesekan antarmuka antara geotekstil dengan tanah atau agregat.

  2. Pemilihan jenis membran penopang beban roda.

  3. Pengukuran potensi keruntuhan pada permukaan bantalan yang memaksa pengembangan pada permukaan kekuatan geser alternatif lebih tinggi.

Dalam metode di atas, stabilitas struktural tanah harus sangat diperhatikan. Sebisa mungkin, bahan yang dijadikan penguat memiliki kekuatan tarik ideal. Geotextile, dengan kekuatan tarik yang andal khas material geosintetik, cocok untuk kebutuhan tersebut.

Penggunaan geotextile material penguat tanah mirip dengan konsep beton polos dan baja. Beton cenderung memiliki kekuatan tarik yang lemah, sehingga ditambahkanlah baja tulangan agar struktur menjadi kuat dan stabil.

Geotextile di sini punya fungsi yang sama dengan baja tulangan. Penambahan geotextile akan memberi kekuatan pada lapisan tanah. Material ini digunakan untuk memberikan perkuatan sehingga memungkinkan tanggul atau jalan dibangun di atas tanah yang sangat lemah dan memungkinkan pembuatan tanggul yang lebih curam.


Penahan

Fungsi penahan atau containment dilakukan oleh material geotextile jenis non-woven. Untuk bisa berfungsi sebagai penahan, woven geotextile diberi tambahan aspal cair atau rendering dengan campuran bahan polimer.

Perlu diketahui, woven geotextile yang telah diberi tambahan aspal cair menjadi relatif tidak permeabel untuk dua bidang (baik itu aliran di dalam bidang maupun lintas bidang). Sebagai penahan, membran woven geotextile ditempatkan pada permukaan perkerasan yang sudah ada.

Aspal cair yang diserap membran geotextile akan menjadi lapisan yang tahan terhadap air (waterproof). Dengan begitu, aliran vertikal air menuju struktur perkerasan akan berkurang.



Contoh Penggunaan Woven Geotextile

Penggunaan woven geotextile sangat luas. Bahkan tiap hari Anda sudah bersinggungan dengan berbagai proyek yang kemungkinan besar melibatkan implementasi woven geotextile. Berikut adalah beberapa contohnya:

  • Dengan kekuatan menahan beban yang tinggi, woven geotextile cocok untuk proyek pengendalian erosi permanen. Menambahkan woven geotextile akan membuat lapisan tanah menjadi lebih kuat dan tidak mudah tergerus faktor pengikis (air maupun angin).

  • Selain itu, woven geotextile juga memiliki fungsi perkuatan atau reinforcement. Hal ini membuatnya cocok untuk proyek yang menekankan pada stabilisasi. Salah satunya adalah pembuatan jalan raya, lintasan kereta api, hingga runway bandara.

  • Contoh lain yang memanfaatkan fungsi perkuatan dari woven geotextile adalah penahan lereng curam. Pengenalan geotextile tenun pada akan membuat lapisan tanah pada lereng menjadi lebih stabil sehingga risiko terjadinya longsor bisa diminimalisir. Fungsi reinforcement juga diterapkan pada proyek pembuatan dinding penahan tanggul maupun penutupan laguna.

  • Permukaan woven geotextile dengan pori-pori kecil yang rapat menjadikan material ini memiliki fungsi separasi atau pemisahan. Barang tenun ini bisa digunakan dalam proyek konstruksi yang memerlukan separasi seperti pada pembuatan jalan. Dengan melakukan separasi, maka lapisan halus dari tanah dasar tidak akan tercampur agregat dari lapisan pondasi bawah.


Demikian pembahasan mengenai woven geotextile serta fungsi, perbedaannya dengan non-woven geotextile, kelebihan dan kelemahan, serta contoh penerapannya. Sebagai material geotextile, woven geotextile umumnya digunakan pada proyek yang masih berhubungan dengan tanah atau bumi. Beberapa fungsi woven geotextile di antaranya adalah fungsi filtrasi, perkuatan, separasi, drainase, hingga penahan.


Sedang mempertimbangkan untuk menggunakan woven geotextile pada proyek konstruksi atau teknik sipil Anda?


Masih belum menemukan supplier produk yang meyakinkan? Geosinindo menawarkan produk woven geotextile serta beragam produk geosintetik lainnya.


Untuk masalah kualitas, tidak perlu diragukan lagi karena seluruh produk Geosinindo telah melalui pengujian di Laboratorium Terakreditasi GAI-LAP. Kami juga memastikan seluruh produk selalu tersedia untuk memenuhi kebutuhan Anda.


Dapatkan informasi lengkap mengenai pemesanan woven geotextile dan produk geosintetik lainnya di sini!