• Geosinindo Team

Retaining Wall Adalah Dinding Anti Longsor, Kenali Fungsi dan Cara Pembuatannya

Diperbarui: 3 hari yang lalu


Retaining Wall Adalah Dinding Anti Longsor, Kenali Fungsi dan Cara Pembuatannya

Saat berkendara di jalan tol dengan pemandangan perbukitan, Anda pasti akan menemukan retaining wall di sepanjang jalannya. Retaining wall tersebut merupakan suatu konstruksi yang terbuat dari bahan dengan kemampuan menahan tanah, terutama di tanah miring atau lereng yang kemantapannya tidak dapat dijamin oleh lereng tanah itu sendiri.

Namun, saat ini retaining wall tidak hanya difungsikan sebagai konstruksi ruang publik saja, tetapi juga untuk eksterior rumah pribadi. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan fungsi dinding yang notabene sebagai pelindung utama rumah. Berikut ini adalah penjelasan lengkap tentang retaining wall, mulai dari pengertian, fungsi, hingga jenis-jenisnya yang patut Anda ketahui.


Apa Itu Retaining Wall?

Retaining wall adalah konstruksi bangunan berupa dinding yang digunakan untuk menstabilkan tanah miring agar tidak bergeser atau longsor. Struktur dari dinding ini dibentuk dengan sangat solid agar tanah dapat ditahan dengan optimal. Tanah yang ditahan ini biasanya memiliki pergerakan alami yang sukar dibendung. Sederhananya, retaining wall adalah dinding penahan yang berfungsi untuk menahan tanah agar tidak longsor.

Umumnya, penyebab tanah longsor adalah karena posisinya yang miring. Selain itu, ada penyebab alamiah lainnya, seperti gaya gravitasi yang menarik tanah untuk jatuh, intensitas hujan tinggi dan tidak mampu ditampung oleh tanah, terjadi gempa bumi, erosi, letusan gunung berapi, serta berada di kawasan patahan antara tanah berkontur tinggi dan rendah.

Retaining wall atau dinding penahan tanah bisa Anda temukan di daerah dataran tinggi seperti pegunungan atau perbukitan. Selain itu, retaining wall juga digunakan di daerah landai hingga rendah seperti pinggir pantai, sungai, sky road, dan basement gedung. Bahkan, retaining wall juga digunakan di rumah-rumah untuk menahan tanah di halaman sekitar.


Fungsi Retaining Wall

Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, retaining wall berfungsi untuk menahan tanah agar tetap stabil dan tidak longsor. Secara umum, ada tiga fungsi utama retaining wall yang meliputi active lateral force soil, lateral force water, dan flow net cut off.

Active lateral force soil adalah fungsi retaining wall untuk mencegah runtuhnya lateral tanah seperti landslide atau tanah longsor. Tekanan lateral tanah adalah gaya yang ditimbulkan akibat adanya dorongan tanah di belakang struktur penahanan tanah. Besarnya tekanan lateral ditentukan oleh perubahan letak dari dinding penahan sifat-sifat tanahnya (Hardiyatmo, 2010).

Kemudian, lateral force water adalah fungsi retaining wall yang mencegah keruntuhan tanah lateral akibat tekanan air yang berlebihan. Apabila curah hujan pada suatu daerah terlalu besar, maka tanah tak akan mampu menahannya. Sedangkan, flow net cut off adalah fungsi retaining wall untuk memotong aliran air pada bagian tanah.

Selain tiga fungsi utama di atas, ada beberapa fungsi lain dari retaining wall yang tak kalah penting. Sesuai dengan lokasi pembuatannya, fungsi dinding penahan meliputi tiga area, yaitu pada sungai, jalan raya, dan rel kereta api.

Fungsi dinding penahan di pinggir sungai adalah untuk menahan tanah yang berada di pinggiran sungai agar tak terjadi banjir (flood walls). Pada konstruksi jalan raya, dinding penahan digunakan sebagai konstruksi guna mendapat perbedaan elevasi. Sedangkan pada pembangunan jalan raya atau rel kereta api di daerah lereng, retaining wall berfungsi sebagai penahan atau penopang yang membatasi konstruksinya.

Apabila Anda memiliki bangunan di daerah lereng yang struktur permukaan tanahnya tidak cukup kuat untuk menahan keseluruhan beban bangunan, maka Anda juga perlu membuat retaining wall. Dengan adanya dinding yang menahan, maka bangunan Anda akan lebih aman. Jika bangunannya bertingkat, maka akan lebih stabil pula kedudukannya.


Jenis-jenis Retaining Wall

Ada beberapa jenis retaining wall yang dibedakan berdasarkan fungsi, kebutuhan, dan material bangunan yang digunakan. Di bawah ini, ada delapan jenis retaining wall yang meliputi block concrete, diaphragm wall, sheet pile, gravity retaining wall, gabion retaining wall, revetment retaining wall, cantilever retaining wall, contiguous pile, dan soldier pile. Berikut ini penjelasan lengkapnya.


1. Blok beton/block concrete

Pertama, ada retaining wall jenis block concrete atau blok beton. Retaining wall jenis ini adalah dinding dari blok-blok beton masif yang disusun secara vertikal dan dilengkapi dengan sistem pengunci.

Cara membuat dinding penahan seperti ini adalah dengan memanfaatkan sistem pengunci antarblok agar tidak ada beton yang bergeser saat proses pemasangan berlangsung. Ciri khas dinding penahan satu ini bisa Anda lihat dari bentuk konstruksinya yang menyerupai model telapak memanjang pada bagian dasar struktur dengan sistem jepit.


2. Diaphragm wall

Jenis retaining wall berikutnya bisa Anda temukan dengan mudah pada sejumlah bangunan bertingkat di Indonesia yang memanfaatkan area bawah tanah (basement). Biasanya, pemanfaatan area bawah tanah ini digunakan untuk lahan parkir atau gudang penyimpanan. Jenis dinding penahan yang biasanya digunakan untuk konstruksi seperti ini adalah diaphragm wall.

Cara membuat dinding penahan jenis diaphragm wall adalah dengan menggali tanah sesuai kebutuhan. Setelah itu, buatlah rangka berdasarkan hasil cor besi beton bertulang untuk dinding basement-nya. Selain mampu menopang tanah agar tidak masuk ke area basement, diaphragm wall juga memiliki fungsi pengeringan air atau biasa disebut dewatering.


3. Sheet pile

Berikutnya, ada sheet pile yang merupakan dinding penahan untuk daerah pinggiran air. Sheet pile berfungsi sebagai dam atau bendungan air. Fungsi utamanya adalah untuk menahan tanah di pinggiran air dalam dam atau bendungan. Metode pelaksanaan konstruksi dinding penahan tanah satu ini adalah dengan memanfaatkan material beton prategang atau prestressed concrete.


4. Gravity retaining wall

Gravity retaining wall adalah jenis dinding penahan tanah yang terbuat dari sejumlah bongkahan batu atau tulang beton (reinforced concrete). Jenis retaining wall satu ini memiliki desain cukup unik mengingat fungsi penopang tanah lateralnya menggunakan bobot massa dari bentuk badan konstruksi dinding itu sendiri. Biasanya, gravity retaining wall paling cocok digunakan untuk area timbunan tanah atau tebing yang landai.


5. Gabion retaining wall

Retaining wall jenis gabion ini terbuat dari kawat bronjong sebagai material utamanya. Maka dari itu, gabion retaining wall terkadang disebut juga dengan tembok bronjong. Tembok bronjong terdiri dari sekumpulan blok yang terbuat dari kawat bronjong berisikan batu-batu yang sudah terbelah.

Batu-batuan inilah yang menjadi komponen utama sekaligus sumber penahan dalam gabion retaining wall. Penggunaan batu-batuan ini juga memudahkan resapan air untuk masuk ke dalam tanah.


6. Revetment retaining wall

Revetment retaining wall adalah jenis dinding penahan yang sering digunakan untuk menahan tanah di area pinggir pantai atau tepi sungai. Jenis dinding penahan satu ini bertujuan untuk memperkuat tanah pada lahan miring di pinggiran pantai atau sungai. Selain itu, model retaining wall seperti revetment ini mampu melindungi tanah dari gerusan atau longsor akibat abrasi.


7. Cantilever retaining wall

Selanjutnya, ada cantilever retaining wall. Jenis dinding penahan model ini biasanya digunakan pada daerah timbunan atau tebing. Cantilever retaining wall idealnya bekerja dengan mengendalikan daya jepit dalam struktur tubuh dindingnya.


8. Contiguous pile dan soldier pile

Retaining wall jenis soldier pile dan contiguous pile adalah konstruksi dinding penahan tanah yang digunakan untuk menahan tekanan lateral tanah aktif pada area bawah tanah atau basement, sama seperti diaphragm wall.

Soldier pile biasanya dikombinasikan juga dengan sistem anchor. Tujuannya adalah sebagai pemutus aliran air bawah tanah sekaligus menambah daya dukung terhadap tekanan aktif lateral tanah. Continuous pile dibuat secara in-situ dengan rangkaian besi beton bertulang maupun profil baja. Terkadang, pemasangannya juga dikombinasikan dengan bentonit dan dirangkai membentuk dinding penahan yang padat.


9.Geosynthetic Retaining Wall

Material geosintetik yang digunakan adalah material geosintetik yang memiliki kuat tarik tinggi dan elongasi yang rendah.


Prinsip kerja material geosintetik pada struktur perkuatan adalah seperti halnya aplikasi besi beton pada konstruksi beton bertulang, dimana gaya tarik yang dimiliki geosintetik berfungsi untuk menanggulangi gaya yang menyebabkan kelongsoran. Ilustrasi berikut menggambarkan prinsip kerja material geosintetik sebagai perkuatan dalam tanah guna menanggulangi kelongsoran pada lereng.


Prinsip kerja material geosintetik sebagai perkuatan
Prinsip kerja material geosintetik sebagai perkuatan

Keuntungan dan keunggulan konstruksi lereng dengan perkuatan geosintetik dibandingkan dengan metode dinding penahan tanah konvensional adalah:

  1. Metode pelaksanaan yang sederhana dan tidak rumit,

  2. Tidak memerlukan tenaga kerja dengan keterampilan khusus, dapat menggunakan tenaga kerja lokal,

  3. Menggunakan peralatan konstruksi yang konvensional (ekskavator, roller, buldozer),

  4. Pelaksanaan konstruksi lebih cepat,

  5. Material timbunan dapat menggunakan material lokal (sesuai perancangan),

  6. Biaya yang lebih ekonomis,

  7. Lereng dapat dibuat dengan kemiringan hingga 90°,

  8. Struktur yang fleksibel,

  9. Penutup (facing) lereng yang beraneka ragam mulai dari yang berkesan asri dan hijau (tanaman/rumput), bronjong, sampai dengan yang kokoh (shotcrete, plesteran, atau blok beton non struktural).

Pada perkuatan lereng, geosintetik dipasang per layer dengan tebal per layer biasanya 50 cm. Tanah di antara layer geosintetik perlu dipadatkan sesuai dengan standar proctor. Geosintetik tersebut dipasang untuk memotong garis kelongsoran.


Layer Geosintetik pada Perkuatan Lereng
Layer Geosintetik pada Perkuatan Lereng

Prosedur/Tahapan Membangun Retaining Wall

Retaining wall menjadi konstruksi yang wajib Anda miliki apabila bangunan Anda berada di tanah yang rawan mengalami longsor atau amblas. Agar struktur tanah yang menopang bangunan tetap stabil, Anda bisa membangun retaining wall sederhana di area sekitar bangunan tersebut.

Terlepas dari berbagai jenis retaining wall seperti di atas, Anda bisa membuat sebuah dinding penahan sederhana, tapi sudah memenuhi fungsinya sebagai penahan tanah agar tidak longsor. Berikut ini adalah prosedur pembuatan retaining wall dengan menggunakan geosintetik.

1. Persiapan Pra-konstruksi

1.1 Pembersihan Lokasi

  • Lokasi pekerjaan digali sesuai gambar rencana dan di bersihkan dari batu, kayu atau benda tajam lainnya.

1.2 Menyiapkan Bekisting

  • Bekisting dapat menggunakan kayu atau besi baja atau kombinasi keduanya. Ukuran bekisting menyesuaikan dari tebal perencanaan setiap layer yaitu 50 cm.

  • Bekisting juga dapat memanfaatkan sand bag yang di tumpuk di dalam pada bagian ujung RES.

1.3 Material

  • Material Geotextile harus disiapkan di tempat di mana terlindung dari cahaya matahari,

  • Material tanah pengisi harus memenuhi persyaratan seperti yang ditunjukkan pada gambar rencana atau desain.

2. Prosedur Instalasi

2.1 Instalasi Bekisting

  • Tempatkan bekisting di sisi depan RES.

2.2 Penggelaran Geotekstil

  • Geotekstil difabrikasi dengan panjang penjangkaran sesuai dengan desain rencana.

  • Geotekstil harus ditempatkan pada arah kekuatan utamanya arah tegak lurus bekisting.

  • Penyambungan geotekstil dilakukan dengan menggunakan dijahit.

  • Jangan ada sambungan pada arah perkuatan lereng.

2.3 Pengisian Material Pengisi dan Pekerjaan Pemadatan

  • Material yang digunakan sebagai pengisi (backfill) sebelumnya harus di uji di laboratorium untuk mendapatkan kepadatan maksimum dan kadar air optimum.

  • Kemudian sesuai dengan nilai kepadatan yang didapat, dilakukan trial pemadatan untuk mengetahui berapa kali passing yang dibutuhkan untuk mencapai minimal 90% kepadatan tersebut. Nilai kepadatan bisa didapatkan dengan menggunakan uji Sand Cone. Kemudian hasil trial tersebut menjadi acuan untuk pemadatan tanahnya.

  • Material pengisi ditempatkan di atas geotekstil kemudian dipadatkan. Untuk 1 layer geotekstil setebal 50 cm (sesuai desain rencana), dilakukan 2 layer pemadatan tanah.

  • Setelah tanah ditimbun setebal 50 cm, kemudian dicek kepadatan tanahnya. Jika sudah tercapai, dilakukan tes DCP untuk mengetahui nilai CBR. Nilai CBR yang didapat tersebut dijadikan acuan untuk kontrol pada layer berikutnya.

  • Ketika penempatan dan pemadatan material tanah pengisi, inspeksi harus dilakukan untuk menghindari lipatan atau gerakan pada geotextil.

  • Setelah satu layer selesai dipadatkan dan di cek nilai CBR nya, kemudian bisa digelar geotekstil untuk layer berikutnya. Untuk pemadatannya bisa dilakukan dengan langkah yang sama.

2.4 Penutupan Lapisan Atas Geotekstil

  • Bagian ujung geotekstil dilipat kembali sepanjang 2 m (sesuai desain rencana)

  • Setelah itu, lapisan geotekstil berikutnya diletakkan lagi, dan selanjutnya berulang hingga mencapai tinggi yang direncanakan.

2.5 Penarikan Keluar Bekisting

  • Bekisting bawah dapat ditarik keluar setelah lapisan ketiga tercapai, dan harus dilakukan dengan hati-hati, sehingga tidak akan menyebabkan kerusakan (robekan) pada geotekstil.

3. Pekerjaan Akhir

  • Untuk mencegah geotekstil bagian depan Konstruksi Perkuatan Lereng Retaining Earth Structure (RES) dari kerusakan tak terduga, perlu ditutupi oleh lapis proteksi. Dalam proyek ini untuk cover lereng digunakan bronjong.

Satu hal penting yang harus menjadi catatan adalah, hindari membuat dinding penahan tanah pada cuaca hujan atau berangin. Selain konstruksinya sulit mengering, risiko kegagalan dalam model konstruksi yang sedang dikerjakan akan semakin besar akibat erosi atau pengikisan pada tanahnya. Struktur tanah yang berlumpur juga akan membuatnya kurang stabil.


Penyebab Retaining Wall Runtuh

Banyak terjadi kasus dinding penahan yang sudah susah payah dibangun, tapi malah runtuh. Hal ini memang mungkin terjadi. Meskipun Anda membuat dinding penahan dari batu-batuan pun, dinding tersebut tetap bisa runtuh dan rusak. Kemungkinan gagalnya konstruksi dinding bisa disebabkan oleh kesalahan konstruksi, campuran materialnya yang salah, atau faktor-faktor lainnya. Berikut ini adalah penyebab runtuhnya retaining wall yang wajib Anda ketahui.


1. Kesalahan dalam konstruksi utama

Penyebab utama retaining wall runtuh adalah akibat kesalahan dalam konstruksinya, terutama pada pondasinya. Bisa juga ada kotoran atau kerikil yang bergeser di bagian bawah dinding karena tidak dipadatkan dengan baik. Faktor kesalahan ukuran batu, perhitungan kedalaman atau ketinggian, serta metode konstruksi juga bisa membuat retaining wall cepat rusak.


2. Desain drainase salah

Jika desain drainase Anda kurang tepat, maka dinding penahan bisa runtuh karena pergerakan air di dalam tanah. Apabila Anda tidak bisa membuat air keluar dengan jalur yang mudah, maka pergerakan air akan mulai mendorong dinding secara paksa.


3. Teknik pengisian dinding kurang tepat

Teknik pengisian dinding penahan jelas berbeda dari dinding biasa. Dinding penahan butuh isian tanah yang harus dilapisi sempurna agar air tidak bisa menembusnya.


4. Termakan usia

Retaining wall juga bisa runtuh akibat sudah termakan usia. Tanda-tanda dinding yang sudah rapuh bisa dilihat dari batu-batunya yang retak, runtuh, tanahnya bergeser, berat timbunan membuat dinding menjadi miring, aliran drainase terhenti, dan sebagainya.


5. Membangun di atas retaining wall

Apabila Anda mencoba membangun dinding di atas dinding yang lain, maka justru akan membuat konstruksinya gagal. Dinding yang digunakan untuk menopang tidak cukup kuat sehingga bisa membuat semuanya hancur atau amblas.


6. Salah pilih material bangunan

Runtuhnya retaining wall akibat human error juga bisa terjadi akibat kesalahan dalam memilih material bangunan. Terkadang, orang-orang salah pilih bebatuan yang lebih halus sehingga mudah retak. Ada pula yang salah menempatkan batu untuk pondasi dan bagian atas.


Hal-hal yang Memengaruhi Ketahanan Retaining Wall

Ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi ketahanan retaining wall Anda, yaitu seperti berikut ini.


1. Perawatan

Apabila Anda melakukan perawatan yang rutin pada dinding penahan Anda, maka dinding tersebut akan lebih tahan lama, kecuali jika terjadi hal-hal tak terduga seperti faktor alam dan sebagainya. Dengan melakukan pengecekan dan perawatan secara rutin, Anda bisa segera mengetahui apabila terjadi kerusakan. Dengan demikian, Anda dapat segera memperbaikinya dan menghindari kerusakan lain yang lebih parah.


2. Cuaca

Hidup di negara tropis seperti Indonesia membuat Anda harus ekstra waspada apabila masuk musim penghujan. Curah hujan yang tinggi dan konstan, badai, serta angin, bisa membuat retaining wall Anda cepat goyah.


3. Desain retaining wall

Desain retaining wall juga memengaruhi ketahanannya. Apabila didesain dengan baik, maka daya tahannya akan optimal. Sedangkan jika desainnya kurang tepat, maka dinding pun akan lebih mudah runtuh.


4. Peristiwa tidak terduga

Terkadang, meskipun Anda sudah mengecek dan merawat retaining wall secara rutin, tetap saja ada hal-hal tak terduga yang mungkin saja terjadi. Misalnya seperti cuaca ekstrem, erosi, atau bahkan tertabrak mobil.


5. Material

Faktor material juga menjadi aspek penting untuk ketahanan retaining wall yang ideal. Apabila Anda menggunakan material-material berkualitas, maka dinding penahan Anda pun akan lebih kokoh. Misalnya, penggunaan Geopipe dari Geosinindo bisa membuat drainase retaining wall Anda menjadi lebih kuat. Produk ini fleksibel dan antikorosi, sehingga menghindarkan risiko retaining wall yang runtuh atau gagal saat konstruksi.


Pembangunan retaining wall perlu dilakukan dengan pertimbangan menyeluruh, mulai dari material pembuatan sampai perawatan. Apabila material yang Anda gunakan berkualitas, seperti Geopipe dari Geosinindo, maka retaining wall Anda tentu akan jauh lebih kokoh dan tidak mudah goyah.

Selain itu, demi memenuhi fungsi utama retaining wall sebagai dinding penahan tanah, maka Anda juga sebaiknya menggunakan Geotekstil dari Geosinindo. Woven geotekstil adalah struktur tekstil planar yang diproduksi dengan menjalin dua atau lebih set elemen, seperti benang, serat, dan filamen yang saling terikat sehingga strukturnya stabil.

Geotekstil dari Geosinindo sangat cocok digunakan untuk berbagai keperluan konstruksi. Mulai dari konstruksi jalan, penopang lereng, retaining wall, tanggul, reklamasi dan pemecah gelombang, bendungan, infrastruktur irigasi, konstruksi kereta api dan bandara, serta lapangan atletik. Produk-produk Geosinindo dapat mendukung proyek konstruksi Anda menjadi lebih optimal!